August 29, 2026

Kualitas Udara Memburuk, 1.960 Kasus ISPA Tercatat di Riau

0
1787834249

PEKANBARU, RIAU — Memburuknya kualitas udara mulai berdampak pada kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Provinsi Riau. Dinas Kesehatan (Dinkes) Riau mencatat sebanyak 1.960 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi di 10 kabupaten/kota selama periode 19–26 Agustus 2026.

Kota Pekanbaru menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 563 kasus, disusul Kabupaten Pelalawan sebanyak 535 kasus.

Yang menjadi perhatian, penambahan kasus dalam satu hari mencapai 634 kasus pada Rabu (26/8/2026). Angka tersebut menjadi penambahan kasus harian tertinggi selama periode pencatatan.

Kepala Dinkes Provinsi Riau, Zulkifli, mengungkapkan data tersebut di Pekanbaru, Kamis (27/8/2026).

“Berdasarkan hasil rekapan kita terhitung 19–26 Agustus, terdapat total kasus ISPA sebanyak 1.960 kasus. Yang mana kasus paling banyak ditemukan hari ini, sebanyak 634 kasus,” ujar Zulkifli.

Selain Pekanbaru dan Pelalawan, kasus ISPA juga ditemukan di sejumlah daerah lainnya. Kabupaten Siak mencatat 198 kasus, Kampar 195 kasus, Kuantan Singingi 181 kasus, Rokan Hulu 114 kasus, dan Rokan Hilir 68 kasus.

Selanjutnya, Kabupaten Bengkalis mencatat 51 kasus, Indragiri Hulu 28 kasus, sedangkan Kota Dumai sebanyak 27 kasus.

Kondisi tersebut mendorong Dinkes Riau meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait langkah perlindungan diri ketika kualitas udara memburuk.

Masyarakat diminta aktif memantau kondisi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Ketika tingkat polusi tinggi, warga dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan dan menutup ventilasi rumah atau bangunan untuk mengurangi masuknya udara tercemar.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan masker ketika kualitas udara berada pada tingkat polusi tinggi. Warga diminta menghindari sumber polusi, termasuk asap rokok, serta menjaga pola hidup bersih dan sehat.

“Kemudian kita minta juga tenaga kesehatan agar mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menggunakan penjernih udara dalam ruangan, menghindari sumber polusi dan asap rokok, menggunakan masker saat polusi udara tinggi, melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul keluhan pernapasan,” kata Zulkifli.

Dinkes Riau juga meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Deteksi dini dinilai penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.

Kelompok rentan menjadi perhatian khusus dalam situasi kualitas udara memburuk. Anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid diminta mendapat perlindungan lebih ketat dari paparan polusi udara.

Selain meningkatkan edukasi, fasilitas pelayanan kesehatan juga diminta memastikan ketersediaan masker yang mampu menyaring polutan udara bagi masyarakat.

Tenaga kesehatan di daerah turut diminta melakukan pemantauan dan pelaporan terhadap perkembangan penyakit yang berkaitan dengan paparan kabut asap dan penurunan kualitas udara.

Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai antara lain ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit, hingga asma.

Dinkes Riau mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau gangguan pernapasan lainnya, terutama jika keluhan muncul atau memburuk saat kualitas udara sedang tidak sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *